Introspeksi Diri

“Bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat diri baru dipertemukan dengan apa itu masalah ?” tanya batinku malam itu. Sementara ia terus bertanya, aku hanya diam dan tetap menelungkupkan kepala di bantal. Buliran air mata masih setia menetes satu persatu. Pada irama tertentu, ia datang bersamaan dan semakin membasahi bantal tipis satu-satunya yang kumiliki.

Entah sudah berapa lama sejak kejadian itu menimpaku. Namun sampai detik ini aku masih terpukul dan pilu dalam kecewa. Diam adalah ritualku sepanjang waktu. Bahkan yang Kuasa pun turut serta kudiamkan. Sadar aku akan dosa, tapi rasanya diri terlalu munafik untuk kembali. Sudah pernah kuberkata tidak akan terulang apa yang sudah terjadi. Namun ternyata, aku melakukannya lagi. Meski dengan kesalahan yang berbeda.

Hingga satu waktu dalam diamku, dalam renungku. Aku tersadar bahwa aku ini manusia. Salah adalah langkahku dan bagian dari hidupku. Entah tuhan menuiskan itu atau tidak. Tuhan ingin aku belajar dari kesalahan yang kulakukan dan menetapkan diriku “bodoh” saat kulalui kesalahan yang sama. Mengapa harus berbuat salah yang sama saat benar-benar sadar itu salah. Dan semua kembali pada diriku sendiri…

Satu yang kupahami, tuhan tak pernah menutup pintu bagi mereka yang benar-benar ingin bertobat.