Pesantren dan Alasan Mencintainya

Ketika akan menyudahi studi di bangku sekolah dasar, untuk pertama kalinya dalam hidup ada kebimbangan yang hinggap di benakku. Anak kecil berusia sekitar 13 tahun yang harus berani ambil resiko untuk masa depannya sendiri. Dimulai dari hal kecil yakni dimana sekolah selanjutnya akan kulalui dan jawabannya hanya ada dua yang salah satunya tak terbantahkan olehku. Mengikuti sekolah negeri atau sekolah berasrama, sebut saja pesantren. Ketika kepala sekolah menanyakan dimana akan kami lanjutkan sekolah kami pada saat pengumuman kelulusan, sebagian besar teman-temanku mengatakan bahwa mereka akan bersekolah di SMP negeri yang artinya bukan pesantren. Spontan saja akupun menginginkan hal yang sama karena akan ada banyak teman disana nantinya. Namun semua terbantahkan oleh permintaan orang tua dan keluarga dirumah. Aku harus di asrama dan sejak inilah hidupku berubah total.

Kecewa dan enggan adalah wajah pertama yang kutunjukkan saat tiba di pesantren. Para santri laki-laki yang hanyut dalam pengajian sore itu sesekali menengok siapa yang akan menjadi santri baru yakni aku. Antara malu dan enggan kulangkahkan kaki perlahan menuju asrama putri. Ketika memasuki asrama putri, pikiranku seakan berkata “SELAMAT DATANG DI ZONA MERAH” yang artinya adalah inilah garis hidupmu yang keras.

Setelah sekian lama mengenyam hidup di pesantren dan kini menikmati bagaimana rasanya hidup diluar pesantren. Ada pertanyaan dalam benakku mengapa dulunya aku mau begitu saja menerima apa yang dikehendaki orang tuaku. Saat siklus pertama di perantauan dimulai, aku dapatkan jawabannya yakni :

  • Aku tidak begitu saja menerima bermacam aliran agama yang terselubung dalam organisasi. Tahun pertama kulalui dengan tinggal bersama orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia dimana mereka adalah kelompok islam yang sangat menginginkan negara ini ditegakkan dengan aturan islam. Khilafah, begitulah kira-kira nama “partainya”. Penampilan mereka menunjukkan perbedaannya dengan aliran islam lainnya. Jilbab panjang bahkan bercadar, baju koko celana kain, serta panggilan akhi ukhti adalah hiasan sehari-hari dan secara tidak langsung hal ini membawaku untuk berani berbeda. Entah bagaimana ceritanya sehingga aku tidak masuk dalam aliran mereka dalam waktu satu tahun tersebut. Padahal yang nampak dari pemandangan kampus adalah ketika mereka (para golongan ekstrim, demikian sebutan untuk para perempuan jilbab besar dan laki-laki berjanggut) mengajak mereka yang katakanlah merasa lemah agamanya dan ingin mendalami agama. Maka dalam sekejap saja bukan hanya ucapan yang berubah akan tetapi penampilan pun menyertai. Buruknya kemudian adalah mereka enggan untuk saling berbagi dengan mereka yang bukan termasuk anggota atau golongan. Cenderung suka berkelompok. Salah seorang teman sekelasku kini tidak lagi bersama kami dan memutuskan untuk bersama komunitasnya. Kabar burung mengatakan bahwa semakin lama ia bersama kami, maka pikirannya akan agama akan perlahan memudar. Kabar tersebut cukup sukses menjauhkan kami dengannya. Seorang kawanku yang juga pernah mengenyam hidup di pesantren mengatakan bahwa kita sudah cukup mendapat stimulus dalam diri mengenai agama dan hal itu tidak akan mudah tergoyahkan oleh ajaran ektrim semacam HTI. Benar saja, ada semacam stimulus dalam diri yang sudah menuntunku untuk bagaimana hidup beragama itu dan semua kuperoleh dari pesantren.
  • Sekalipun kuakui bahwa hidup diluar pesantren memang memiliki berjuta bahkan bermilyar tantangan yang selama ini hanya kubayangkan. Meski orang lain mengakui bahwa penampilanku sama sekali tidak menggambarkan bahwa aku mantan anak santri. Namun masih ada penuntun yang selama ini selalu menemani dan terngiang dalam ingatan serta menegur kala aku salah. Semua itu adalah nafas pesantren.
  • Hidup yang kujalani saat ini tidak akan bisa mengalahkan hidupku di pesantren.
  • Sebuah alasan terakhir adalah bahwa pesantren memberikanku banyak manusia untuk dipelajari sebelum akhirnya mempelajari mereka yang hidup diluar pesantren. Pesantren pula yang mengajarkanku hidup saat ini termasuk bagaimana cara merapikan kamarmu sendiri, memasak sendiri, mencuci sendiri, berbuat apapun sendiri. Hanya pesantren yang mengajarkan itu semua.

Pada akhirnya, alasan sederhana orang tua memintaku untuk mau tinggal di pesantren selama kurang lebih enam tahun ternyata mengandung alasan lebih mendalam. Nikmatnya bisa kuperoleh saat kini kujalani hidup diluar pesantren dengan kondisi yang 100% berbeda dari sebelumnya.